Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
Tampilkan postingan dengan label EDUKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EDUKASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2014

GURU KEHIDUPAN


Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporakporandakan kota dan desa. Ada yang belajar dari apel yang jatuh disamping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu.Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat.Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata.Ada yang memadukan kata dan perbuatan.Yang istimewa diantara mereka, "bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat (khiyarukum man dzakkarakum billahi ru'yatuh wa zada fi'amalikum mantiquh wa raggahabakum fil akhirati 'amaluh)"
Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan untuk itu ia harus membayar mahal. Bani Israil bergurukan nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi.Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti.Apa yang kurang? Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala, tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api, selain kotoran yang memenuhi wajahmu?
Murid-murid Bebal
Berbicara seputar orang-orang degil, berarti menimbun begitu banyak kata seharusnya. Seharusnya Bani Israil berjuang sepenuh jiwa dan raga, bukan malah mengatakan: "Hai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang dan setelah engkau datang," (QS.7:129) karena sesungguhnya mereka tahu ia benar-benar diutus Allah untuk memimpin mereka. Seharusnya mereka tidak mengatakan: "Kami tak akan masuk kesana (Palestina), selama mereka masih ada disana, maka pergilah engkau dengan tuhanmu, biar kami duduk-duduk disini," (QS.5:24) karena berita tenggelamnya Fir'aun di lautan dan
selamatnya Bani Israil, adalah energi besar yang mampu meruntuhkan semangat orang-orang Amalek yang menduduki bumi suci yang dijanjikan itu. Adapun yang ditenggelamkan itu Fir'aun, mitos sejarah yang tak terbayangkan bisa jatuh. Kemudian seharusnya mereka yang dihukum karena sikap dan ucapan dungu tadi, pasrah saja di padang Tih, dengan jatah catering Manna dan Salwa serta tinggal beratapkan awan pelindung dari sengatan terik matahari. Ternyata mereka mengulangi lagi kedegilan lama mereka. "Hai Musa, kami tak bakalan sabaran dengan jenis makanan monotype, cuma semacam ini, karenanya berdoalah engkau kepada tuhanmu untuk kami, agar ia keluarkan untuk kami tumbuhan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang puihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya." (QS.2:61)
Betul, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang dapat dilihatnya diterik siang di bawah sorotan lampu ribuat watt, bila matanya ditutup rapat? Tarbiyah dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata kuliah kehidupan sangat besar perannya. Sebuah bangsa yang sudah "merdeka" 54 tahun, namun tak peduli bagaimana menghemat cadangan energi, tak tahu bagaimana membuang sampah, ringan tangan membakar hutan dan me-WC-kan sungai-sungai kota mereka, tentulah bukan bangsa yang pandai mendidik diri. Sebuah bangsa yang tergopoh-gopoh ikutan kampanye anti AIDS, dengan hanya menekankan aspek seks aman (dunia) saja tanpa mengingat murka Allah, tentulah bangsa itu belum kunjung dewasa.Bila diingat 6 dari 10 anak-anak mereka terancam flek paru-paru, lengkap sudah kebebalan itu.
Nurani yang Selalu Bergetar
Konon, Imam Syafi'ie ra sangat malu dan menyesal bila sampai ada orang mengutarakan hajat kepadanya."Mestinya aku telah menangkap gejala itu cukup dari kilas wajahnya."
Mereka yang akrab dengan arus batin manusia, mestinya selalu dapat menangkap isyarat muqabalah (oposit) makna ayat 2:273, "Engkau kenal mereka dengan ciri mereka, tak pernah meminta kepada manusia dengan mendesak." Sementara yang bukan "engkau" tak dapat membaca gelagat ini: "Si jahil mengira mereka itu kaya, lantaran mereka berusaha menjaga diri."
Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sebagai manusia yang jujur, ikhlas dan merdeka. Karenanya, "Hindarilah bergincu dengan ilmu sebagaimana engkau menghindari ujub (kagum diri) dengan amal.Jangan pula engkau meyakini bahwa aspek batin dari adab dapat diruntuhkan oleh sisi zahir dari ilmu.Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangan taati manusia dalam menentang Allah.Jangan simpan sedikitpun potensimu dari Allah dan jangan restui suatu amal kepada Allah yang bersumber dari nafsumu.Berdirilah dihadapan-Nya dalam shalatmu secara total." (Almuhasibi, Risalatu'lmustarsyidin).
Akhirnya, semakin jauh perjalanan tarbiyah dzatiyahnya, semakin banyak kekayaan yang diraihnya.Ungkapan berikut ini tidak ada kaitannya dengan bid'ah atau khilafiyah fiqh.Ia lebih mewakili ibrah agar kita tak terjebak pada aktifitas formal atau sebaliknya.
"Pada aspek zahir ada janabah yang menghalangimu masuk rumah-Nya atau membaca kitab-Nya, dan aspek batin juga punya janabah yang menghalangimu memasuki hadhirat keagungan-Nya dan memahami firman-Nya.Itulah ghaflah (kelalaian)" (Ibnu Atha'illah, Taju'l Arus).
Hakikat Kematangan Ilmu
Kembali ke kematangan pribadi dan keberhasilan tarbiyah dzatiyah, seseorang tak diukur berdasarkan kekayaan hafalannya atau keluasan pengetahuannya, tetapi pada kemampuannya memfungsikan bashirahnya: "Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya bashirah, seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan. Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang dapat melihat walau hanya dengan satu mata, niscaya masyarakat hanya mau mengikuti yang satu ini dan meninggalkan yang 100.000".
Rasulullah SAW meredakan kemarahan para sahabat yang sangat tersinggung kepada seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk tetap bisa berzina. "Engkau rela ibumu dizinai orang?" tanya beliau dengan bijak. "Demi Allah, saya tidak rela!" "Relakah engkau jika anak perempuanmu, saudara perempuanmu dan isterimu dizinai orang?""Tidak, demi Allah!" "Nah, demikianlah masyarakat...."
Demikianlah, amtsal merupakan metode pencerahan yang digunakan Al-Qur'an dan Al-Hadist, bahkan dengan kata kunci yang patut dicermati: "....Tak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" (29:43). Citarasa yang tinggi dibangun dan sensitifitas dipertajam, mengantarkan manusia kepada puncak pencerahan ruhani mereka.Sebuah ungkapan kedewasaan pun "Semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah, tak ada perbedaan antara Arab atas Ajam dan Ajam atas Arab melainkan dengan taqwa." Itulah zaman, saat sejarah tak lagi dimonopoli raja, puteri dan pangeran, tetapi menjadi hak bersama yang melambungkan nama Bilal budak hitam abadi dalam adzan, atau Zaid menjadi satu-satunya nama sahabat dalam Al-Qur'an. Demikianlah kemudian kita kenal Ammar, Sumayyah dan banyak lagi budak yang melampaui prestasi dan prestise para bangsawan. Padahal 13 abad kemudianpun Eropa masih mempertanyakan perempuan makhluk apa. Dan, para intelektualnya sampai pada kesimpulan "Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam tampilan manusia." Justru Muhammad SAW telah memberi standar "Takkan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan mereka kecuali manusia hina". Sementara para perempuannya seperti dilukiskan puteri Sa'id bin Musayyab: "Kami memperlakukan suami seperti kalian memperlakukan para pemimpin, kami ucapkan: "Ashlahakallah, hayyakallah!" (Semoga Allah memperbaiki/melindungimu, semoga Allah memuliakanmu)."
Oleh : Ust. Rahmat Abdullah

memaknai proses pembelajaran


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan.
(Imam Syafi’i )
Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Dalam menuntut ilmu, kita tak mengenal waktu, usia, dan jarak. Layaknya pepatah yang sering kita dengar, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.” Demikianlah urgensi menuntut ilmu bagi seorang muslim. Namun saat ini, menuntut ilmu seolah hanya diidentikkan dengan proses akademik, layaknya bangku sekolah dan bangku kuliah.
Belajar di bangku kuliah memang berbeda dengan belajar di bangku sekolah. Di bangku sekolah, para siswa terbiasa ‘disuapi’ oleh para pengajar sehingga ilmu yang dipelajari tidaklah mendalam. Pola ini berubah seiring peralihan ke bangku kuliah, di sini para mahasiswa dituntut untuk mandiri dengan penerapan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Pada jenjang ini, ilmu yang dipelajari lebih fokus dan mendalam, sesuai dengan penjurusan yang dipilih. Pengkhususan bidang ilmu dan perubahan sistem pengajaran memaksa mahasiswa untuk beradaptasi dan mengatur pola belajar yang lebih efektif. Tak semata-mata demi nilai, tetapi juga pada proses pembelajarannya. Saat memasuki ranah profesional, yang dilihat bukan hanya nilai, tetapi juga keahlian dan pengetahuan yang diperoleh semasa kuliah.
Lantas, bagaimana metode belajar yang baik dan efektif? Berikut ini beberapa kiat yang dapat kita lakukan.
a.    Membaca buku referensi yang direkomendasikan oleh dosen, minimal dua kali, agar isi buku itu benar-benar kita pahami. Biasanya buku inilah yang dijadikan acuan oleh dosen ketika membuat soal ujian.
b.    Mendengarkan dosen walaupun membosankan. Tidak tergoda untuk asyik sendiri ketika jam kuliah. Mencatat penjelasan yang disampaikan karena biasanya informasi itulah yang akan ditanyakan saat ujian
c.    Membentuk kelompok belajar. Carilah teman yang memang serius belajar dan mau berbagi ilmu. Melalui kelompok ini, diharapkan pemahaman dan wawasan kita tentang sesuatu topik semakin matang dan mendalam.
d.   Mengatur proporsi SKS yang kita ambil tiap semester berdasarkan bobot dan tingkat kesulitan. Hindari mengambil mata kuliah sulit sekaligus dalam satu semester ataupun sebaliknya. Hal ini penting untuk menyeimbangkan tekanan yang kita terima (terlalu rendah ataupun tinggi dalam semester tertentu) yang berdampak pada kestabilan ritme belajar kita (kecuali diwajibkan untuk mengambil paket yang telah ditentukan jurusan).
e.    Membiasakan belajar rutin, ada atau tidaknya ujian. Jauhi pola SKS (Sistem Kebut Semalam). Selain meningkatkan stres, juga membuat ilmu yang kita pelajari terasa lebih sulit dicerna. Hasil yang diperoleh pun tidak akan efektif.
f.     Menjaga hubungan baik dengan dosen (tak perlu sampai “menjilat”) karena tak sedikit dosen yang memberi nilai berdasarkan subjektivitasnya, anggapan tentang baik-tidaknya seorang mahasiswa di mata beliau.
g.    Tidak tergoda untuk mencontek. Ingat! Mencontek itu haram dan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Mencontek hanya akan menumbuhkan mental pengecut dan pecundang. Mencontek membuat kita malas belajar sebab terbiasa mengambil jalan pintas. Belum lagi risikonya jika ketahuan, citra kita di mata dosen dan mahasiswa lainnya akan rusak.
Demikianlah beberapa tips agar kita lebih mementingkan proses belajar dibanding hasilnya. Semoga kita dapat menerapkannya dalam kehidupan perkuliahan kita.
Selain kiat-kiat di atas, kita juga dapat meneladani salah satu sosok istri Rasulullah Saw., yaitu ‘Aisyah Ra. Di Mekah, ia dinikahi Rasulullah Saw. Saat berusia enam tahun. Namun, baru berkumpul dengan Rasulullah Saw. di Madinah pada usia sembilan tahun. Ia ditinggal wafat oleh Rasulullah Saw saat  berusia delapan belas tahun. Di masyarakat kita saat ini, apa yang dapat dilakukan seorang anak delapan belas tahun? Inilah kehebatan ‘Aisyah Ra. Ia mampu membuktikan keistimewaannya. Di usianya itu, ia telah menguasai berbagai permasalahan agama sedemikian luas. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa ingatannya mengenai sabda dan perbuatan Rasulullah saw. tak terbatas.
Dalam beberapa hadis, disebutkan bahwa Masruq Ra. berkata, “Aku menyaksikan para sahabat terkemuka menanyakan masalah-masalah agama kepada ‘Aisyah Ra.” Sedangkan Atha Ra. berkata, “Aisyah Ra. lebih menguasai masalah agama dan lebih alim daripada para sahabat laki-laki.” Sahaat yang lain, yaitu Abu Musa ra.pun berkata, “Apabila kami menjumpai kesulitan dalam suatu masalah agama maka kami akan menjumpai jawabannya dari ‘Aisyah Ra.“ (Al Ishabah)
2210 hadis yang telah diriwayatkan ‘Aisyah Ra. tercantum di dalam berbagai kitab-kitab hadis. ‘Aisyah sendiri berkata, “Ketika kecil, aku masih bermain-main pada saat diturunkan ayat بل الساعةُ موعدُهم والساعةٌادهى وامرّ, yang berarti ‘bahkan sebenarnya kiamat itu adalah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari kiamat itu adalah lebih dahsyat dan lebih pahit’. [Q.S. Al Qamar: 46] (Bukhari).
’Aisyah tinggal di Mekah hingga usia delapan tahun. Di usianya yang begitu belia, ia dapat mengetahui dan mengingat turunnya ayat tersebut. Hal tersebut merupakan bukti nyata atas keberkahan dan keistimewaan agama Islam. Jika tidak, apa yang dapat dilakukan oleh seorang anak yang berusia delapan tahun? (Fadhail Amal)
Imam Adz Dzahabi Ra. berkata, “Dapat dipastikan bahwa Ibunda ‘Aisyah Ra. adalah orang yang paling dalam ilmunya di kalangan wanita ummat ini.” Biliknya dikenal sebagai sekolah pertama di dunia. Beliau melakukan taklim harian bersama Rasulullah Saw. di kamar itu.
Beliau pindah dari rumah Abu Bakar As-Shiddiq ke rumah Nubuwah sejak masih kanak-kanak. Di kalangan para perawi hadis, ‘Aisyah Ra. menempati posisi keempat berdasarkan banyaknya hadis yang diriwayatkannya. Dengan perincian, Abu Hurairah Ra. 5374 hadis, Abdullah ibnu Umar Ra. 2630 hadis,  Anas bin Malik Ra. 2286 hadis, Aisyah Ra. 2210 hadis.
Demikianlah salah seorang sosok wanita sholihah lagi cerdas. Keluasan ilmunya sebanding dengan kelurusan akhlaknya. Hal inilah yang patut kia tiru dari ibunda kita, “Aisyah Ra. Semoga kita dapat meniru caranya mencari ilmu, memahami, serta mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan kita.
jakarta, 14 desember 2012

DARI MASA KE MASA

Random Post

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. fikri safir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger